Label

Senin, 18 Juni 2012

MAKALAH ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (TUNARUNGU, TUNANETRA, TUNAGRAHITA)


MAKALAH
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
(TUNARUNGU, TUNANETRA, TUNAGRAHITA)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah :
Anak Berkebutuhan Khusus

Dosen Pengampu :
Ali Rahman, M.Pd
Disusun Oleh :
Kelompok 5
Rahmad Rizani      AIE308251
Ari Hidayat             A1E308256
Helnawati                A1E308271
Rahmawati             AIE308270
M. Dian Faizal        AIE308279

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI S1 PGSD
BANJARMASIN
2012


KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
(TUNANETRA, TUNARUNGU, TUNAGRAHITA)
A.    TUNANETRA
a.      Pengertian Tunanetra
Secara harafiah tunanetra berasal dari dua kata, yaitu: a) Tuna (tuno:Jawa) yang berarti rugi yang kemudian diidentikan dengan rusak, hilang, terhambat, terganggu tidak memiliki dan b) Netra (netro:Jawa) yang berarti mata. Namun demikian kata tunanetra adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang berarti adanya kerugian yang disebabkan oleh kerusakan atau terganggunya organ mata, baik anatomis maupun fisiologis.
Secara umum, istilah tunanetra digunakan untuk menggambarkan tingkatan kerusakan atau gangguan penglihatan yang berat sampai pada yang sangat berat, yang dikelompokkan secara umum menjadi buta dan kurang lihat. Sebagian ahli mengelompokkannya menjadi kurang lihat (low vision), buta (blind), dan buta total (totally blind). Perlu anda pahami bahwa kerusakan yang terjadi pada organ penglihatan (mata) dapat meliputi kerusakan yang ringan sampai yang sangat berat. Anak yang memilki kerusakan ringan pada penglihatannya (seperti myopia dan hypermetropia) masih dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata dan bisa mengikuti pendidikan seperti anak yang lainnya, secara umum tidak dikelompokkan pada tunanetra.

b.      Klasifikasi Tunanetra
1.         Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan (Visus)
a)        Tingkat ketajaman 20/20 feet – 20/50 feet (6/6 m – 6/16 m)
Pada tingkat ketajaman penglihatan ini masih digolongkan tunanetra taraf ringan dan masih dapat mempergunakan mata relatif secara normal. Kemampuan pengamatan visual masih cukup baik dan dapat mempergunakan alat bantu pendidikan secara normal
b)       Tingkat ketajaman 20/70 feet – 20/200 feet (6/20 m – 6/60 m)
Istilah tunanetra kurang lihat (low vision) ada pada tingkat ketajaman ini. Dengan memodifikasi obyek atau benda yang dilihat atau menggunakan alat bantu penglihatan tunanetra masih terkoreksi dengan baik, disebut juga tunanetra ringan (partially sight).
c)        Tingkat ketajaman 20/200 feet atau lebih (6/60 m atau lebih)
Ketunanetraan sudah digolongkan tingkat berat dan mempunyai taraf ketajaman penglihatan: a). Tunanetra masih dapat menghitung jumlah jari tangan pada jarak enam meter, b). Tunanetra mampu melihat gerakan tangan dari instruktur, c). Tunanetra hanya dapat membedakan terang dan gelap.
d)       Tingkat ketajaman 0 (visus 0)
Adalah mereka yang buta total yang sama sekali tidak memiliki rangsangan cahaya bahkan tidak bisa membedakan terang dengan gelap.

2.         Berdasarkan Saat Terjadinya
a)        Tunanetra sejak dalam kandungan (prenatal)
Hal ini terjadi pada kasus ibu hamil yang menderita penayakit menular ke janin, saat hamil terjatuh, terjadi keracunan makanan atau obat-obatan ketika sedang mengandung, karena serangan virus misalnya taxoplasma, atau orang tua yang menurunkan kelainan (hereditar).
b)       Tunanetra terjadi pada saat proses kelahiran (natal)
Kelainan tunanetra yang mungkin disebabkan oleh kesalahan pada saat proses kelahiran, misalnya: anak sungsang, proses kelahiran yang lama sehingga bayi terjepit atau kurang oksigen atau karena bantuan alat kelahiran berupa penyedotan atau penjepitan.
c)        Tunanetra terjadi setelah kelahiran (postnatal)
Dapat terjadi dari bayi (setelah lahir) hingga dewasa, hal ini dapat sisebabkan oleh misalnya kecelakaan benturan, trauma (listrik, kimia, suhu atau sinar yang tajam), keracunan, penyakit akut yang diderita.

3.      Berdasarkan Adaptasi Pendidikan
Klasifikasi tunanetra ini tidak didasarkan pada hasil tes ketajaman penglihatan, tetapi didasarkan pada adaptasi/penyesuaian pendidikan khusus yang sangat penting dalam membantu mereka belajar atau diperlukan dalam membantu layanan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan penglihatannya. Klasifikasi ini dikemukakan oleh Kirk (1989: 348-349), yaitu sebagai berikut:
a)    Ketidakmampuan melihat taraf sedang (moderate visual disability)
Pada taraf ini, mereka dapat melakukan tugas-tugas visual yang dilakukan oleh orang “awas” dengan menggunakan alat bantu khusus dan dibantu dengan pemberian cahaya yang cukup.
b)     Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability)
Pada taraf ini, mereka memiliki kemampuan penglihatan yang kurang baik atau kurang akurat meskipun dengan menggunakan alat bantu visual dan modifikasi sehingga mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan energi dalam melakukan tugas-tugas visual.
c)      Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability)
Pada taraf ini mereka mendapat kesulitan untuk melakukan tugas-tugas visual, dan tidak dapat melakukan tugas-tugas visual yang lebih detail, seperti membaca dan menulis huruf “awas”. Dengan demikian, mereka tidak dapat menggunakan penglihatannya sebagai alat pendidikan sehingga indra peraba dan pendengaran memgang peranan penting dalam menempuh pendidikannya. 

c.       Penyebab Terjadinya Tunanetra
1.   Faktor Internal
Faktor internal merupakan penyebab ketunanetraan yang timbul dari dalam diri individu, yang sering disebut juga faktor keturunan. Faktor ini kemungkinan besar terjadi pada perkawinan antarkeluarga dekat dan perkawinan antartunanetra.

2.      Faktor Eksternal
a)        Penyakit rubella dan syphilis
Rubella atau campak Jerman merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang sangat berbahaya dan sulit didiagnosis secara klinis. Apabila seoarng ibu terkena rubella pada tri semester pertama (3 bulan pertama) maka virus tersebut dapat merusak pertumbuhan sel-sel pada janin dan merusak jaringan pada mata, telinga atau organ lainnya sehingga kemungkinan besar anaknya lahir tunanetra  atau tuna rungu atau berkelainan lainnya. Demikian juga dengan  syphillis (penyakit yang menyerang alat kelamin), apabila penyakit itu terjadi pada ibu hamil maka akan merambat kedalam kandungan sehingga dapat menimbulkan kelainan pada bayi yang dikandungnya atau bayi tersebut akan terkena penyakit ini sewaktu dilahirkan. 
b)       Glaukoma (Glaucoma)
Glaukoma merupakan suatu kondisi dimana terjadi tekanan yang berlebihan pada bola mata. Hal itu terjadi karean struktur bola mata yang tidak sempurna pada saat pembentukannya dalam kendungan. Kondisi ini ditandai dengan pembesaran bola mata, kornea menjadi keruh, banyak mengeluarkan air mata, dan merasa silau.
c)        Retinopati diabetes (Diabetic retinopathy)
 Retinopati diabetes merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya gangguan dalam siplai/aliran darah pada retina. Kondisi ini disebabkan oleh adanya penyakit diabetes.
d)       Retinoblastoma
Retinoblastoma merupakan tumor ganas yang terjadi pada retina, dan sering ditemukan pada anak-anak. Gejala yang dapat dicurigai antara lain, menonjolnya bola mata, adanya bercak putih pada pupil, strabismus (juling), glaukoma, mata sering merah, atau penglihatannya sering menurun.
e)        Kekurangan vitamin A
Vitamin A berperan dalam ketahanan tubuh terhadap infeksi. Dengan vitamin A, tubuh lebih efisien dalam menyerap protein yang dikonsumsi. Kekurangan vitamin A akan menyebabkan kerusakan pada matanya, yaitu kerusakan pada sensitifitas retina terhadap cahaya (rabun senja) dan terjadi kekeringan pada konjungtiva bulbi yang terdapat pada celah kelopak mata, disertai pengerasan dan penebalan pada epitel. Pada saat mata bergerak, akan tampak lipatan [ada konjungtiva bulbi. Dalam keadaan ini parah hal tersebut dapat merusak retina, dan apabila dibiarkan akan terjadi ketunanetraan.
f)         Terkena zat kimia
Di samping memberikan manfaat bagi manusia, zat-zat kimia juga dapat merusak apabila penggunaanya tidak hati-hati. Zat kimia tertentu, seperti zat etanol dan aseton, apabila mengenai kornea, akan mengakibatkan mata kering dan terasa sakit. Selain itu zat-zat lain, seperti asam sulfat dan asam tannat yang mengenai kornea akan menimbulkan kerusakan bahkan mengakibatkan ketunanetraan.
g)        Kecelakaan
Kecelakaan menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan ketunanetraan apabila kecelakaan tersebut mengenai mata atau saraf mata. Benturan keras mengenai saraf mata atau tekanan yang keras terhadap bola mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan bahkan ketunanetraan.

B.     TUNARUNGU
a.      Pengertian tunarungu
Istilah tunarungu diambil dari kata ‘tuna’ dan ‘rungu’, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang dikatakan tunarungu apabila ia tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara.
 Tunarungu satu istilah umum yang menunjukkan ketidakmampuan mendengar dari yang ringan sampai yang berat sekali yang digolongkan kepada tuli (deaf) dan kurang dengar ( a hard of hearing). Orang yang tuli ( a deaf person) adalah seseorang yang mengalami ketidakmampuan mendenar sehingga mengalami hambatan didalam memproses informasi bahasa melalui pendengarannya dengan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aid), sedangkan yang kurang dengar ( a hard of hearing person) adalah sesorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu dengar, sisa pendengarannya cukuup memungkinkan untuk keberhasilan memproses informasi bahasa melalui pendengarannya, artinya apabila orang yang kurang dengar tersebut menggunakan hearing aid ia masih dapat menangkap pembicaraan melalui pendengarannya.

b.      Klasifikasi Tunarungu
Ketunarunguan dapat diklasifikasikan berdasarkan empat hal, yaitu tingkat kehilangan pendengaran, saat terjadinya ketunarunguan, letak gangguan pendengaran secaraanatomis, serta etiologis.
1.      Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran yang diperoleh melalui tes dengan menggunakan audiometer ketunarunguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a)      Tunarungu ringan (mild hearing loss)
b)      Tunarungu sedang (moderate hearing loss)
c)      Tunarungu agak berat (moderately csevere hearing loss)
d)     Tunarungu berat (severe hearing loss)
e)      Tunarungu berat sekali (profound hearing loss)
2.      Berdasarkan saat terjadinya ketunarunguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a)      Ketunarunguan prabahasa (prelingual deafness), yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi sebelum kemampuan bicara da bahsa berkembang.
b)      Ketunarunguan pascabahasa (post lingual deafness), yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi beberapa tahun setelah kemampuan bicara dan bahasa berkembang.
3.      Berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis, ketunarunguan dapat diklasifasikan sebagai berikut.
a)      Tunarungu tipe konduktif, yaitu kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada telinga bagian luar dan tengah, yang berfungsi sebagai alat konduksi atau pengantar getaran suara menuju telinga bagian dalam.
b)      Tunarungu tipe sensorineural, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada telinga dalam serta saraf pendengaran (nervus chochlearis).
c)      Tunarungu tipe campuran yang merupakan gabungan tipe konduktif dan sensorineural, artinya kerusakan terjadi pada telinga luar/tengah dengan telinga dalam/saraf pendengaran.
4.      Berdasarkan etiologi atau asal usul ketunarunguan diklasifikasikan sebagai berikut.
a)      Tunarungu endogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh faktor genetik (keturunan)
b)      Tunarungu eksogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh factor nongenetik (bukan keturunan)

Klasifikasi ketunarunguan sangat bervariasi menurut BOOThroyd. Klasifiksi dan karakteristik ketunarunguan diantaranya didsarkan pada:
Kelompok I      : Kehilangan 15-30 dB: mild hearing losses atau ketunarunguan ringan;   daya tangkap suara cakapan manusia normal.
Kelompok II     : kehilangan 31-60 dB: moderate hearing losses atau ketunarunguan sedang; daya tangkap terhadap cakapan manusia hanya sebagian.
Kelompok III   : kehilangan 61-90 dB: severve hearing losses atau ketunarunguan berat; daya tangkap terhadap cakapan suara manusia tidak ada.
Kelompok IV   : kehilangan 91-120 dB: profound hearing losses atau ketunarunguan sangat berat; daya tangkap terhadap suara cakapan manusia tidak ada sama sekali.
Kelompok V     : kehilangan lebih ari 120 dB: total hearing losses atau ketunarunguan total; daya tangkap terhadap suara manusia tidak ada sama sekali.
Uden (1977) mebagi klasifikasi ketunarunguan menjadi tiga, yakni berdasarkan saat terjadinya ketunarunguan, berdasarkan tempat keruasakan pada organ pendengaran, dan berdasarkan pada taraf penguasaan bahasa.
c.       Penyebab terjadinya tunarungu
Banyak pendapat yang mengemukakan penyebab terjadinya tunarungu, antara lain,
1.      Penyebab terjadi tunarungu tipe konduktif
a)      Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga luar
b)     Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga tengah
2.      Penyebab terjadinya tunarungu tipe sensorincural
a)      Ketunarunguan yang disebabkan oleh factor genetic (keturunan), maksudnya bahwa keturunan tersebut disebabkan oleh gen ketunarunguan yang menurun dari orang tua kepada anak.
Pendapat lain menyatakan penyebab terjadinya tunarungu adalah :
1.      Factor internal diri anak
a)      Factor keturunan
b)      Penyakit campak
c)      Keracunan darah

2.      Faktor eksternal diri anak
a)      Bagaimana fonem atau bunyi bahasa yang telah dirangkai dalam bentuk kata menjadi bermakna, sehingga pelaku komunikasi (penyampaian dan penerima pesan) dapat memahaminya.
b)      Bagaimana kalimat yang tersusun secara efektif dan efisien bagi pemakai bahasa.
C.    TUNAGRAHITA
a.                  Pengertian Tunagrahita
Anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar disebabkan karena kemampuan mereka berada di bawah rata-rata atau biasa disebut dengan tunagrahita.
Kata lain dari tunagrahita adalah retardasi mental (mental retardation). Secara harfiah kata tuna adalah merugi, sedangkan grahita adalah pikiran. Dengan demikian cirri utama dari anak tunagrahita adalah lema dalam berpikir atau bernalar. Kurangnya kemampuan anak dalam berpikir dan bernalar mengakibatkan kemampuan belajar, dan adaptasi sosial berada di bawah rata-rata. (Abdurrachman, 1994:19).
Berdasarkan PP No. 72 Tahun 1991 istilah yang digunakan pada saat ini untuk anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah yaitu tunagrahita. Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya berada dibawah rata-rata, sehingga sukar untuk mengedakan interaksi dengan orang lain.
Secara historis terdapat lima basis yang dapat dijadikan pijakan konseptual dalam memahami tunagrahita(Harbart J.Prehm dalam Philip L Browning, 1974) yaitu:
a)      Tunagrahita merupakan kondisi
b)      Kondisi tersebut ditandai oleh adanya kemampuan mental jauh di bawah rata-rata
c)      Memiliki hambatan dalam penyesuaian diri secara social
d)     Berkaitandenegan adanya kerusakan organik pada susunan syaraf pusat
e)      Tunagrahita tidak dapat disembuhkan
AAMD (American Associatoin on Mental Defeciency) merumuskan definisi tunagrahita sebagai berikut:
Mental retardation refers to significantly subaverage general intellectual functioning exsisting concurrently with deficits in adaptive, and manifested during develovment period (grossman dalam Robert Inggalls 1987)
Definisi tersebut  menekankan bahwa tunagrahita merupakan kondisi yang konplek, menunjukkan kemampuan intelektual yang rendah dan mengalami hambatan dalam perilaku adaptif.
Dalam perkembangan mutakhir anak tunagrahita dikelompokkan ke dalam istilah developmental Disability (Marybeimer/Smith, Richard F. Ittenbar  & James R. Patton;2002) Dalam istilah developmental disability mengandung makna sebagai berikut:
a)      Ditandai oleh adanya gangguan mental (kognitif) ata fisik ataukombinasi dari mental dan fisik.
b)      Gangguan tersebut terjadi sebelum usia 22 tahun.
c)      Memiliiki keterbatasan alam tiga atau lebih pada sapek berikut :
·         Menolong diri
·         Bahasa reseftif dan ekspresif
·         Belajar
·         Mobilitas
·         Mengerahkan diri sendiri
·         Kapsitas untuk hidup mandiri
·         Secara ekonomi memiliki keterbatasan dalam memperoleh penghasilan.
d)     Membutuhkan treatment atau layanan pendidikan yang sistematis dan layanan multidisipliner, sepanjang hidupnya atau sekurang-kurangnya memerlukan waktu yang panjang.
b.      Klasifikasi Tunagrahita
Ada beberapa klasifikasi atau pengelompokan tunagrahita berdasarkan berbagai tinjauan diantaranya;
a)      Berdasarkan Kapasitas Intelektual (skor IQ)
·         Tubagrahita ringan IQ 50-70
·         Tunagrahita sedang IQ 35-50
·         Tunagrahita berat IQ 20-35
·         Sangat berat memiliki IQ dibawah 20
b)      Berdasarkan kemampuan akademik
·         Tunagrahita mampudidik
·         Tunagrahita mampulatih
·         Tungrahita perlurawat
c)      Berdasarkan tipe klini pada fisik
·         Down’s Syndrome (mongolism)
·         Macro Cephalic
·         Micro Cephalic
Perbedaan individu (individual deferences) pada anak tungrahita bervariasi sangat besar, dalam pengklasifikasian terdapat cara yang sangat bervariasi tergantung dasar pandang dalam pengelompokannya. Klasifikasi itu sebagai berikut :
a)      Klasifikasi yang berpandangan medis, dalam bidang ini memandang  variasi anak tunagrahita dari keadaan tipe klinis. Kleompok tipe klinis diantaranya :
·         Down syndrome
·         Kretin
·         Hydrocephalus
·         Microcephalus, macrocephalus, Brachephalus dan Scaphocephalus.
·         Cereblas Palsy
·         Rusak otak
b)      Klasifikasi yang berpandangan pendidikan, memandang variasi anak tunagrahita dalam kemampuannya mengikuti pendidikan.
Pengelompokan ini adalah sebagai berikut :
·         Mampu didik
·         Mampu latih
·         Perlu rawat.
Menurut Abdurrachman dan Sudjadi (1994 :26) mengemukakan klasifikasi ketunagrahitaan untuk keperluan pembelajaran, terbagi atas kelompok yaitu :
·         Taraf perbatasan atau lamban belajar (the borderline or the slow learner).
·         Tunagrahita mampu didik
·         Tunagrahita mampu latih
·         Tunagrahita mampu rawat (berat, dan sangat berat)

c)      Klasifikasi yang berpandangan sosiologis memandang variasi tunagraahita dalam kemampuannya mandiri dimasyarakat, atau peran yang dapat dilakukan masyarakat:
Menurut AAMD (Amin,1995:22-24) klasifikasi itu sebagai berikut :
·         Tunagrahita ringan; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 50-70, dalam penyesuaian social maupun bergaul, mampu menyesuaikan diri pada lingkungan social yang lebih luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat semi terampil.
·         Tunagrahita sedang, tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30-50; mampu melakukan keterampilan megurus diri sendiri(self-helf); mampu mengadakan adaptasi social dilingkungan terdekat; dan mampu mengerjakan pekerjaan rutin yang perlu pengawasan atau bekerja di tempat kerja terlindung (sheltered work-shop)
·         Tungrahita berat dan sangat berat, mereka sepanjang hidupnnya selalu tergantung batuan dan perawatan orang.
d)     Klasikfikasi yang dikemukakan oleh Leo kanner (Amin, 1995:22-24), dan ditinjau dari sudut tingkat pandangan masyarakat sebagai berikut :
·         Tunagrahita absolute
·         Tunagrahita relative
·         Tunagrahita semu.
e)      Klasifikasi menurut kecerdasan (IQ) dikemukakan oleh Grosman (Hallahan & Kauffman, 1988:48) sebagai berikut :
TERM
IQ RANGE FOR LEVEL
Mild mental Retardation
Mederate mental Reterdation
Severe mental Retardation
Profound mental Retardation
55-70 to aprox, 70
35-40 to 50-55
20-25 to 35-40
Bellow 20 or 25

Klasifikasi tunagrahita dari berbagai pandangan tersebut jika dipadukan akan membentuk table sebagai berikut :
Kemampuan dalam pendidikan
sosiologis
Tingkat kecacatan
Tingkat kecerdasan (IQ)
Mampu didik
Ringan, mild, marginally, dependent, moron
debil
55-70 to aprox 70
Mampu latih
Sedang, moderate, semi dependent.
imbesil
35-40 to 50-55
Perlu rawat
Berat, severe, totally dependent, profound
idiot
25-25 to 35-45 bellow 20 or 25


c.       Faktor-faktor Penyebab Ketunagrahitaan
Banyak factor yang menyebabkan sehingga anak mengalami ketunagrahitaan. Para ahli membagi faktor penyebab tersebut atas beberapa kelompok.
Straus membagi faktor penyebab ketunagrahitaan menjadi dua gugus yaitu
·         Endogen, penyebabnya pada sel keturunan
·          Eksogen, hal-hal di luar sel keturunan misalnya infeksi, virus menyerang otak, benturan kepala yang keras, radiasi, dan lainlain-lain.
Cara lain yang sering digunakan dalam pengelompokan faktor penyebab ketunagrahitaan adalah berdasarkan waktu terjadinya, yaitu factor yang terjadi sebelum lahir (prenatal), saat lahir (natal)  dan setelah lahir (postnatal).
Beberapa penyebab ketunagrahita yang sering ditemukan yaitu :
a)      Faktor keturunan
Penyebab kelainan yang berkaitan dengan berbagai factor keturunan, meliputi hal-hal berikut.
·         Kelainan kromosom, dapat dilihat dari bentuk dan nomor
·         Kelainan gen. kelainan ini terjadi pada waktu mutasi, tidak selamanya tampak dari luar (tetap dalam tingkat genotip)
a)      Gangguan metabolisme dan gizi
Metabolisme dan gizi merupakan factor yang sangat penting dalam perkembangan individual terutama perkembangan sel-sel otak. Kegagal;an metabolism dan kegagalan pemenuhan kebutuhan gizi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fisik dan mental pada individu.
b)      Infeksi dan keracunan
Keadaan ini disebabkan oleh terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada dalam kandungan.
c)      Trauma dan zat radioaktif
Terjadinya trauma terutama pada otak ketika bai dilahirkan atau terkena radiasi zat radioaktif saat hamil dapat mengakibtakan ketunagrahitaan.
d)     Masalah pada kelahiran
Masalah yang terjadi padaa saat kelahiran, misalnya kelahiran yang disertai hypoxia yang dipastikan bayi akan menderita kerusakan otak, kejang, dan nafas pendek. Kerusakan juga dapat disebabkan oleh trauma mekanis terutama mekanis terutama pada kelahiran yang sulit.
e)      Factor lingkungan
Menurut patton & Pollowa bahwa bermacam-macam pengalaman negative atau kegagalan dalam melakukan interaksi yang terjadi dalam periode perkembangan menjadi slah satu penyebab ketunagrahitaan. Studi yang dilakukan Kirk menemukan bahwa anak yang berasal dari keluarga yang tingkat sosiaal ekoniminya rendah menunjukkan kecenderungan mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama, bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia.
Latar belakang pendidikan ornag tua sering juga dihubungkan dengan masalah-maslah perkembangan. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsangan positif dalam masa perkembangan aanak menjadi salah satu penyebab timbulnya ganggguan. Triman Prasadio ( 1982:26) mengemukakan bahwa kurangnya rangsangan intelektual yang memadai mengakibatkan timbulnya hambatan dalam perkembangan inteligensia sehingga anak dapat berkembang menjadi anak retardasi mental






















Daftar Pustaka

Hadi, Purwaka. 2007. Komunikasi Aktif Bagi Tunanetra aktifitas dalam pembelajaran pada sistem pendidikan inklusif. Jakarta : departemen Pendidikan Nasional
Rochyadi, Endang. 2005. Pengembangan Program Pembelajaran Individual bagi anak Tunagrahita. Jakarta: Depertemen pendidikan Nasional.
Sadjaah,Edha. 2005. Pendidkan bahas bagi Anak Gangguan pendengaran Dalam Keluarga. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Nasional.
Suparno, dkk. Pendidikan berkebutuhan Khusus.  Bnajarmasin : Dinas pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan.
Wantah, j Maria. 2007. Pengembangan Anak Tunagrahita mampu latih. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
Wardhani IGAK. 2007. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta : Universitas terbuka
Winarsih, murni. 2007. Pendidkan bahas bagi Anak Gangguan pendengaran Dalam Keluarga. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Nasional.
Hadi, Purwaka. 2007. Komunikasi Aktif Bagi Tunanetra aktifitas dalam pembelajaran pada sistem pendidikan inklusif. Jakarta : departemen Pendidikan Nasional