Label

Senin, 18 Juni 2012

KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

1.        TUNADAKSA
Tunadaksa merupakan sebutan halus bagi orang-orang yang memiliki kelainan fisik, khususunya anggota badan, seperti, kaki, tangan, atau bentuk tubuh. Atau dapat dikatakan bahwa , tunadakasa adalah istilah lain dari Tuna fisik-berbagai jenis gangguan fisik yang berhubungan dengan kemampuan motorik dan beberapagejala penyertayang mengakibatkan seseorang mengalami hambatan dalam mengikuti pendidikan normal, serta dalam penyesuaian diri dengan lingkunganya.
Antara anak normal dan tunadaksa memiliki peluang yang sama untuk melakukan aktualisasi diri. Hnya saja, banyak orang yang meragukan kemampuan dari anaktunadaksa. Perasaan iba yang berlebihan selalu membuat sesorang tidak mengizinkan anak tundaksa untuk melakukan kegiatan fisik.
a.       Tunadaksa digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu :
Ø  Tunadaksa taraf ringan
Ø  Tunadaksa taraf sedang
Ø  Tunadaksa taraf berat
b.      Ciri-ciri anak yang mengalami tunadaksa
Ø  Anggota gerak tubuh tidak bisa digerakkan/lemah/kaku/lumpuh.
Ø  Setiap bergerak mengalami kesulitan.
Ø  Tidak memiliki anggota gerak lengkap.
Ø  Hiperaktif/tidak dapat tenang dan.
Ø  Terdapat anggota gerak yang tidak sama dengan keadaan normal pada umumnya. Misalkan, jumlah yang lebih, ukuran yang lebih kecil dan sebagainya.
c.       Factor penyebab tunadaksa
Ø  Sebelum lahir (pre-natal).
Ø  Factor keturunan.
Ø  Usia ibu  pada saat hamil.
Ø  Pendarahan waktu hamil.
Ø  Keguguran yang dialami ibu.
Ø  Saat kelahiran .
Ø  Setelah kelahiran.
d.      Pendidikan anak tunadaksa
Tujuan pendidikan anak tunadaksa bersifat dua (dual purpose), yaitu berhubungan aspek rehabilitasi pemulihan dan pengembangan fungsi fisik. Menurut Frances P. Connor (1995) mengemukakan sekurang-kurangnya ada 7 aspek yang perlu dikembangkan pada diri anak tunadaksa melalui pendidikan, yaitu :
Ø  Pengembangan Intelektual dan Akademik
Ø  Membantu Perkembangan fisik
Ø  Meningkatkan perkembangan emosi danpenerimaan diri anak
Ø  Mematangkan aspek sosial
Ø  Mematangkan moral dan spiritual
Ø  Meningkatkan ekspresi diri
Ø  Mempersiapkan masa depan anak
Layanan pendidikan anak tunadaksa dapat dilakukan dengan :
Ø  Pendekatan guru kelas
Ø  Pengajaran tim

2.        TUNALARAS
a.      Pengertian anak tunalaras
Istilah resmi “tunalaras” baru dikenal dalam dunia Pendidikan Luar Biasa (PLB). Istilah tunalaras berasal dari kata “tuna” yang berarti kurang dan “laras” berarti sesuai.  Jadi, anak tunalaras berarti anak yang bertingkahlaku kurang sesuai dengan lingkungan. Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang terdapat di dalam masyarakat tempat ia berada.
Penggunaan istilah tunalaras sangat bervariasi berdasarkan sudut pandang tiap-tiap ahli yang menanganinya, seperti halnya pekerja social menggunakan istilah social maladjustment terhadap anak yang melakukan penyimpangan tingkah laku. Para ahli hukum menyebutnya dengan juvenile delinquency. Dalam Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991 disebutkan bahwa tunalaras adalah gangguan atau hambatan atau kelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik tyerhadap lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Sementara itu masyarakat lebih mengenalnya dengan istilah anak nakal. Seperti halnya istilah, definisi mengenai tunalaras juga beraneka ragam. Berbagai definisi yang diadaptasi oleh Lynch dan Lewis (1988) adalah sebagai berikut.
1.      Public Law 94-242 (Undang-undang tentang PLB di Amerika Serikat) mengemukakan pengertian tunalaras dengan istilah gangguan emosi, yaitu gangguan emosi adalah suatu kondisi yang menunjukkan salah satu atau lebih gejala-gejala berikut dalam satu kurun waktu tertentu dengan tingkat yang tinggi yang mempengaruhi prestasi belajar:
a.       Ketidakmampuan belajar dan tidak dapat dikaitkan dengan factor kecerdasan, pengindraan atau kesehatan.
b.      Ketidakmampuan menjalin hubungan yang menyenangkan teman dan guru
c.       Bertingkah laku yang tidak pantas pada keadaan normal
d.       Perasaan tertekan atau tidak bahagia terus-menerus
e.       Cenderung menunjukkan gejala-gejala fisik seperti takut pada masalah-masalah sekolah
2.      Kauffman (1977) mengemukakan bahwa penyandang tunalaras adalah anak yang secara kronis dan mencolok berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara yang secara social tidak dapat diterima atau secara pribadi tidak menyenangkan tetapi masih dapat diajar untuk bersikap yang secara social dapat diterima dan secara pribadi menyenangkan.
3.      Sechmid dan Mercer (1981) mengemukakan bahwa anak tunalaras adalah anak yang secara kondisi dan terus menerus menunjukkan penyimpangan tingkah laku tingkat berat yang mempengaruhi proses belajar meskipun telah menerima layanan belajar serta bimbingan seperti anak lain. Ketidakmampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain dan gangguan belajarnya tidak disebabkan oleh kelainan fisik saraf atau inteligensia.
4.      Nelson (1981) mengemukakan bahwa tingkah laku seorang murid dikatakan menyimpang jika:
a.       Menyimpang dari perilaku yang oleh orang dewasa dianggap normal menurut usia dan jenis kelaminnya
b.      Penyimpangan terjadi dengan frekuensi dan intensitas tinggi
c.       Penyimpangan berlangsung dalam waktu yang relative lama
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membuat definisi atau batasan mengenai tunalaras sangatlah sulit karena definisi tersebut harus menggambarkan keadaan anak tunalaras secara jelas. Beberapa komponen yang penting diperhatikan adalah:
1)      Adanya penyimpangan perilaku yang terus menerus menurut norma yang berlaku sehingga menimbulkan ketidakmampuan belajar dan penyesuaian diri
2)      Penyimpangan itu tetap ada walaupun telah menerima layanan bimbingan belajar
b.      Klasifikasi anak tunalaras
Pengkasifikasian anak tunalaras banyak ragamnya diantaranya sebagai berikut.
1.      Klasifikasi yang dikemukakan oleh Rosembera dkk. (1992) adalah anak tuinalaras dapat dikelompokkan atas tingkah laku yang berisiko tinggi dan rendah dan yang berisiko tinggi yaitu hiperaktif, agresif, pembangkang, delinkuensi dan anak yang menarik diri dari pergaulan social, sedangkan yang berisiko rendah yaitu autism dan skizofrenia.secara umum anak tunalaras menunjukkan cirri-ciri tingkah laku yang ada persamaannya pada setiap klasifikasi, yaitu kekacauan tingkah laku, kecemasan dan menarik diri, kurang dewasa, dan agresif.
2.      System klasifikasi kelainan perilaku yang dikemukakan oleh Quay, 1979 dalam Samuel A. Kirk and James J. Gallagher (1986) yang dialihbahasakan oleh Moh. Amin,dkk (1991: 51) adalah sebagai berikut.
a.       Anak yang mengalami gangguan perilaku yang kacau (conduct disorder) yang mengacu pada tipe anak yang melawan kekuasaan, seperti bermusuhan dengan polisi dan guru, kejam, jahat, suka menyerang, dan hiperaktif
b.      Anak yang cemas-menarik diri (anxious-withdraw) adalah anak pemalu, takut-takut, suka menyendiri, peka, dan penurut. Mereka cenderung tertekan batinnya.
c.       Dimensi ketidakmatangan (immaturity) mengacu kepada anak yang tidak ada perhatian, lambat, tidak berminat sekolah, pemalas, suka melamun dan pendiam. Mereka mirip seperti anak autistik.
d.      Anak agresi sosialisasi (socialized-aggressive) memp[unyai cirri atau masalah perilaku yang sama dengan gangguan perilaku yang bersosialisasi dengan “gang” tertentu. Anak tipe ini termasuk dalam perilaku pencurian dan pembolosan. Mereka merupakan suatu bahaya bagi masyarakat umum.
c.       Karakteristik anak tunalaras
Karakteristik yang dikemukakan oleh Hallahan dan Kauffman (1986), berdasarkan dimensi tingkah laku anak tunalaras adalah sebagai berikut.
1.      Anak yang mengalami kekacauan tingkah laku, memperlihatkan cirri-ciri:
1)      Suka berkelahi, memukul, menyerang
2)      Mengamuk
3)      Membangkang, menantang
4)      Merusak milik sendiri atau milik orang lain, tidak mau memperhatikan, memecah belah, ribut
5)      Tidak bisa diam, menolak arahan
6)      Cepat marah, menganggap enteng, sok aksi, ingin menguasai orang lain
7)      Mengancam, pembohong dan lain sebagainya
2.      Anak yang sering merasa cemas dan menarik diri, dengan ciri-ciri:
1)      Khawatir, cemas, ketakutan, kaku
2)      Pemalu, segan
3)      Menarik diri, tak berteman, rasa tertekan, sedih, terganggu, rendah diri, dingin, malu, kurang percaya diri, mudah bimbang dan lain sebagainya
3.      Anak yang kurang dewasa, dengan cirri-ciri yaitu:
1)      Pelamun, kaku, berangan-angan
2)      Pasif, mudah dipengaruhi, pengantuk, pembosan dan kotor
4.      Anak yang agresif bersosialisasi dengan cirri-ciri:
1)      Mempunyai komplotan jahat, mencuri bersama kelompoknya
2)      Loyal terhadap teman nakal, berkelompok dengan geng
3)      Suka di luar rumah sampai latut malam, bolos sekolah dan minggat dari rumah
Berikut ini akan dikemukakan karakteristik yang berkaitan dengan segi akademik, sosial/emosional, fisik/kesehatan anak tunalaras.
1.      Karakteristik Akademik
Kelainan perilaku akan mengakibatkan adanya penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk. Akibat penyesuaian yang buruk tersebut maka dalam belajarnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut.
a.       Pencapaian hasil belajar yang jauh di bawah rata-rata
b.      Seing kali dikirim ke kepala sekolah atau ruangan bimbingan untuk tindakan discipliner
c.       Sering kali tidak naik kelas atau bahkan ke luar sekolahnya
d.      Sering kali membolos sekolah
e.       Lebih sering dikirim ke lembaga kesehatan dengan alasan sakit, perlu istirahat
f.       Anggota keluarga terutama orang tua lebih sering mendapat panggilan dari petugas kesehatan atau bagian absensi
g.      Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi
h.      Lebih sering menjalani masa percobaan dari yang berwewenang
i.        Lebih sering melakukan pelanggaran hukum dan pelanggaran tanda-tanda lalu lintas
j.        Lebih sering dikirim ke klinik bimbingan


2.      Karakteristik Sosial/Emosional
Karakteristik sosial/emosional anak tunalaras dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.       Karakteristik sosial
1)      Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain, dengan cirri-ciri perilaku tidak diterima oleh masyarakat dan biasanya melanggar norma budaya, dan perilaku melanggar aturan keluarga, sekolah dan rumah tangga
2)      Perilaku tersebut ditandai dengan tindakan agresif, yaitu tidak mengikuti aturan, bersifat mengganggu, mempunyai sikap membangkang atau menentang, dan tidak dapat bekerja sama
3)      Melakukan kejahatan remaja, seprti telah melanggar hukum
b.      Karakteristik emosional
1)      Adanya hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak seperti tekanan batin dan rasa cemas
2)      Adanya rasa gelisah, seperti rasa malu, rendah diri, ketakutan, dan sangat sensitive atau perasa
c.       Karakteristik fisik/kesehatan
Karakteristik fisik/kesehatan anak tunalaras ditandai dengan adanya gangguan makan, gangguan tidur dan gangguan gerakan. Sering kali anak merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada jasmaninya, ia mudah mendapatkan kecelakaan, merasa cemas terhadap kesehatannya, merasa seolah-olah sakit. Kelainan lain yang berwujud kelainan fisik seperti gagap, buang air tidak terkendali sering ngompol dan jorok.

3.        ANAK BERBAKAT
a.       Klasifikasi Anak Berbakat
Menurut Clark, (1983:5), anak berbakat adalah anak yang menunjukkan kemampuan/ penampilan yang tinggi dalam bidang-bidang, seperti intelektual, kreatif, seni, kapasitas kepemimpinan atau bidang-bidang, akademik khusus, dan yang memerlukan pelayanan-pelayanan atau kativitas-aktivitas yang tidak biasa disediakan oleh sekolah agar tiap kemampuan berkembang secara optimal.
Tingkat kecerdasan atau inteligensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan keberhasilan belajar  siswa. Ini bermakana, semakin tinggi kemapuan inteligensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah inteligensi seorang siswa maka semakinkecil peluangnya untuk memperoleh sukses.
b.       Klasifikasi Anak Berbakat Secara Umum
Beberapa klasifikasi yang menonjol dari anak-anak berbakat umumnya hanya dilihat dari tingkat inteligensinya, berdasarkan standar Binet, yaitu meliputi :
1.      Kategori rata-rata, dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ): 110-119
2.      Kategiri superior, dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ) : 120-139
3.      Kategori sangat superior, dengan tingkat intelektual (IQ) : 140-169. 

4.      TUNANETRA
Klasifkasi Tunanetra Berdasarkan Derajatnya
a.       Tunanetra dengan ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m atau 20/70 feet-20/200 feet. Tingkat ketajaman penglihatan seperti ini pada umumnya dikatakan tunanetra kurang lihat (low vision). Pada taraf ini para penderita masih mampu melihat dengan bantuan alat khusus.
b.      Tunanetra dengan ketajaman penglihatan 6/60m atau 20/200 feet. Tingkat ketajaman seperti ini, sudah dikatakan tunanetra tunanetra berat atau secar umum dapat dikatakan buta (blind). Kelompok ini masih dapat diklasifikasikan lagi menjadi berikut ini.
1)      Kelompok tunanetra yang masih dapat melihat gerakan tangan
2)      Kelompok tunaetra yang hanya dapat membadakan terang dan gelap.
c.       Tunanetra yang memilki visus 0
Pada taraf yang terakhir ini, anak sudah tidak mampu lagi melihat rangsangan cahaya atau dapat dikatakan tidak dapat melihat apapun. Kelompok ini sering disebut dengan buta total (tot lly blind). Hal ini senada dengan Purwaka Hadi (2005:47) yang membaginya kedalam  empat tingkatan, yaitu:
a.       Tinkat ketajaman 20/200 feet-20/50 feet (6/6m-6/16m)
Pada tingkat ketajaman penglihatan ini masih digolongkan tunanetra taraf ringan dan masih dapat mempergunakan mata relatif secara normal. Kemampuan pengamatan visual masih cukup baik dan dapat memperguanakan alat bantu pendidikan secara formal.
b.      Tingkat ketajaman 20/70 feet-20/200 feet (6/20m-6/60m)
Istilah tunanetra kurang lihat (low vision) ada pada tingkat ketajaman ini. Dengan memodifikasi obyek atau benda yang dilihat atau menggunakan alat bantu penglihatan tunanetra masih terkoreksi dengan baik, disebut tunanetra ringan (patially sight).
c.       Tingkat ketajaman 20/200feet atau lebih (6/60m atau lebih)
Ketunanetraan sudah digolongkan tingkat berat dan mempunyai taraf ketajaman penglihatan:
1.      Tunanetra masih dapat menghitung jumlah jari tangan pada jarak 6 meter,
2.      Tunanetra mampu melihat gerakan tangan dari instruktur
3.      Tunanetra hanya dapat membadakan terang dan gelap
d.      Tingkat ketajaman penglihatan 0 (visus 0)
Adalah mereka yang buta total yangsama sekali tidak memiliki rangsangan cahaya bahkan tidak bisa membedakan terang dan gelap.






Daftar Pustaka

Hadi, Purwaka. 2005. Kemandirian Tuna Netra Orientasi Akademik dan Orientasi Sosial. Jakarta: Depdiknas

Wardani, dkk. 2008. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: UT.

Widiati, Sri. 2010. Sistem Pendidikan Bagi Abak Tunadaksa di SLB-D YPAC. http://jurusanplb.blogspot.com/2010/07/sistem-pendidikan-bagi-anak-tunadaksa.html, diakses pada tanggal 13 Maret 2012.



















KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Di Susun Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus


Dosen Pembimbing :
Ali Rahman, S.Pd, M.Pd

Di susun oleh:
Kelompok 6

§  Fatimah                            A1E308027
§  Rahman Wahyudi           A1E308272
§  Hijrah Safithri                 A1E308281
§  Izna Fatia                         A1E308286
§  Shadda Antoni M. K.     A1E308289

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI S1 PGSD
2012